Kamis, 21 September 2017

makalah psikologi umum perasaan dan emosi

BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar belakang
Perasaan dan emosi pada umumnya disifatkan sebagai keadaan (state) yang ada pada individu atau organism pada sesuatu waktu. Missal seseorang merasa sedih, senang, takut, marah maupun gejala-gejala yang yang lain setelah melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu. Dengan kata lain perasaan dan emosi disifati sebagai suatu keaadaan kejiwaan pada organism atau individu sebagai akibat adanya peristiwa atau persepsi yang dialami oleh organism. Pada umumnya peristiwa atau keadaan tersebut menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam diri organism yang bersangkutan.
Menurut Chaplin (1972) yang dimaksud dengan perasaan adalah keadaan atau state individu sebagai akibat dari persepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal. Mengenai emosi Chaplin berpendapat bahwa devinisi mengenai emossi cukup berfariasi yang dikemukakan oleh ahli psikologi dari berbagai orientasi. Namun demikian dapat dikemukakan atas general agreement bahwa emosi merupakan reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Karena itu emosi lebih intens daripada perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku, hubungan dengan lingkunagan kadang-kadang terganggu.
Emosi umumnya terjadi pada waktu yang relaktif singkat, sehingga emosi berbeda dengan mood. Mood atau suasana hati pada umumnya  berlangsung pada waktu yang relative lebih lama daripada emosi, tetapi intensitasnya kurang apabila dibandingkan dengan emosi. Apabila seseorang mengalami marah atau emosi, maka kemarahan tersebut tidak segera hilang begitu saja, tetapi terus berlangsung dalam jiwa seseorang (inilah yang disebut mood) yang akan berperan dalam diri seseorang yang bersangkutan. Namu demikian ini juga yang perlu di bedakan dengan temperamen. Dimana temperamen adalah suatu keadaan psikis seseorang yang lebih permanen daripada mood, karena itu temperamen lebih merupakan predisposisi yang ada pada diri seseorang, dan karena itu temperamen lebih merupakan aspek kepribadian seseorang apabila dibandingkan dengan mood.


B.     Rumusan masalah
1.      Apa itu perasaan ?
2.      Adakah dimensi-dimensi didalam perasaan?
3.      Apa itu emosi?
4.      Adakah teori-teori yang menjelaskan tentang emosi?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui apa itu perasaan.
2.      Mengetahui dimensi-dimensi yang ada dalam perasaan
3.      Mengetahui pengertian emosi.
4.      Mengetahui teori-teori emosi
















BAB II PEMBAHASAN
A.    Perasaan
Menurut Chaplin (1972) yang dimaksud dengan perasaan adalah keadaan atau state individu sebagai akibat dari persepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perasaan maka perhatikan menyajian contoh sebagai berikut
“….. hening dan tenang malam itu, tak ada suara yang meretak sunyi. Tiba-tiba bergemalah nada-nada gamelan yang pertama, berat dan dalam memenuhi kesunyian. Penabuh gambang ringan lincah menarikan tangan nya diatas gambang. Seakan-akan tidak dipegangnya pamalu kayu ringan lari melonjak-lonjak di atas deretan kayu gambang yang terbilah-bilah itu. Nada-nada tabuhan-tabuhan yang beragam-ragam jenisnya berpadu dengan harmonis, lembut dan murni laksana percikan air hujan di atas daun. Perlahan-lahan dengan lemah lunglai, penari itu merentangkan tangannya, seraya jarinya bergerak dengan cepatnya. Mulailah ia menari, tarioan yang mempesonakan yang penuh berjiwa. Tubuhnya yang lampai di liuk-liukkan dengan eloknya, tapi gerakkanya penuh dengan kemegahan yang tak dapat dinyatakan dengan kata-kata…..”(gazali dan brikenfeld, 1953;98)
Dengan contoh di atas, keadaan tersebut dapat menimbulkan sesuatu keadaan dalam diri individu sebagai suatu akibat yang dialaminya atau yang dipersepsinya. Namun demikian bagaimana reaksi atau keadaan dari masing-masing individu terhadap keadaan tersebut tidak sama dengan yang lain. Karena itu dalam perasaan ada beberapa sifat tertentu yang ada pada dirinya yaitu ;
a.    Pada umumnya perasaan berkaitan dengan persepsi, dan merupakan reaksi dari stimulus yang mengenainya
b.      Perasaan bersifat subjektif, lebih subjektif apabila dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa psikis yang lain.
c.       Perasaan dialami oleh individu sebagai perasaan senang atau tidak senang sekalipun tingkatannya berbeda-beda.


1.      Tiga dimensi perasaan menurut Wundt
Seperti yang telah dipaparkan didepan perasaan itu dialami oleh individu sebagai perasaan senang atau tidak senang. Namun demikian senang dan tidak senang itu bukan satu-satunya dimensi perasaan. Menurut Wundt (lih. Woodworth dan Marquis, 1957) selain dimensi perasaan senang dan tidak senang masih ada dimensi perasaan yang lain, yaitu;
a.    Perasaan masih dapat dialami individu sebagai excited feeling atau sebagai inert feeling
b.      Excited feeling adalah perasaan yang dialami oleh individu disertai adanya perilaku atau perbuatan yang menampak, misalnya orang menari-nari karena lulus ujiannya. Sebaliknya sekalipun seseorang mengalami perasaan senang karena menirima uang banyak atau lulus ujiannya tetap senang saja, tanpa ada perilaku atau perbuatan yang Nampak keluar, inilah yang dimaksud dengan inert feeling.
c.       Expectancy feeling dan release feeling. Sesuatu perasaan dpat dialami oleh individu sebagi sesuatu yang belum nyata, sesuatu yang masih dalam pengharapan , ini yang dimaksud expectancy feeling. Disamping itu perasaan dapat dialami oleh individu karena sesuatau itu telah nyata, inilah yang dimaksud release feeling.
2.      Jenis perasaan
Salah satu demensi yang dikemukakan pleh wundt adalah mengenai perasaan yang dikaitkan dengan waktu, yaitu perasaan yang telah yata dengan perasaan yang masih dalam jangkauan waktun yang akaan dating. Sehubungan dengan waktu dan perasaan, stern (lih. Bigot,dkk., 1950) membedakan perasaan dalam tiga golongan yaitu;
a.   Perasaan presens, yaitu perasaan yang timbul dalam keadaan yang sekarang nyata, yaitu berhubungan dengan situasi yang actual.
b.  Perasaan hyang menjangkau maju, merupakan jangkauan kedepan, yaitu perasaan-perasaan dalam kejadian-kejadian yang akan datang, jadi masih dalam pengharapan.
c.    Perasaan yang berkaitan dengan waktu yang telah lampau, yaitu perasaan yang timbul dengan melihat kejadian-kejadian yang telah lalu.
Perasaan dengan jangkauan kedepan ada kaitannya dengan teori harapan yang dikemukakan oleh Stotland (Shaw dan Costanzo, 1984). Menurut Stotland orang yang mempunyai harapan menunjukan keadaan yang optimis, aktif. Sebaliknya orang tidak mempunyai harapan menunjukkan keadan hyang pasif.
Scotland mengemukakan beberapa hipotesis mengenai teorinya tersebut. Diantara hopotesis-hipotesis dapat dikemukakan bahwa;
a.   Makin tinggi orang mempersepsi probilitas tercapainya tujuan, dan makin besar pentingnya suatu tujuan, makin besar perasaan positif atau perasaan senang yang ada dalam diri seseorang yang bersangkutan.
b.     Makin pentingnya suatu tujuan, tetapi seseorang mempersepsi rendahnya probilitas tercapainya tujuan, maka hal tersebut akan menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan atau timbulnya suatu kecemasan (anxiety).
c.    Apabila seseorang mengalami kecemasan, maka adanya motivasi dari orang yang bersangkutan untuk melepaskan diri dari kecemasan tersebut.
Dalam hal teori harapan ini jelas adanya kaitan antara perasaan yang timbul dengan kemungkinan tercapainya tujuan dan pentingnya tujuan, walaupun tujuan tersebut secara objektif belum di capai oleh individu yang bersangkutan.
Disamping itu Max Scheler (lih. Bigot., 1950) mengajukan pendapat ada empat macam tingkatan dalam perasaan, yaitu;
a. Perasaan tingkat sensoris, yaitu perasaan yang didasarkan atas kesadaran yang berhubungan dengan stimulus pada kejasmanian, missal rasa sakit, panas, dingin.
b.  Perasaan kehidupan vital, yaitu perasaan yang bergantung pada keadaan jasmani keseluruh, missal rasa tegar, dan lelah.
c.  Perasaan psikis atau kejiwaan, yaitu perasaan senang, susah, takut dsb.
d. Perasaan kepribadian, yaitu oerasaan yang berhubungan dengan keseluruhan pribadi, missal perasaan harga diri, perasaan putus asa, dan perasaan puas.
Bigot, dkk., (1950) memberikan klasifikasi perasaan sebagai berikut;
a.    Perasaan keindraan, yaitu perasaan yang berkaitan dengan indra.
b.  Perasaan psikis atau perasaan kejiwaan, di bedakan atas beberapa klasifikasi yaitu; perasaan intelektual, perasaan kesusilaan, perasaan keindahan, perasaan social atau kemasyarakatan, perasaan harga diri, dan perasaan ke-Tuhanan.
a)      Perasaan Intelektual
Perasaan ini timbul atau menyertai aspek intelektual, yaitu perasaan yang timbul apabila orang dapat memecahkan sesuatu soal, atau mendapat hal-hal baru sebagai hasil kerja dari segi intelektualnya.
b)      Perasaan kesusilaan
Perasaan ini timbul apabila seseorang mengalami hal-hal yang baik atau buruk mengenai norma-norma kesusilaan. Hal-hal baik akan menimbulkan perasaan senang atau positif, sedangkan hal-hal yang tidak baik akan menimbulakn perasaan yang tidak senang, sebaliknya kalu orang tersebut tidak baik akan mengalami perasaan tidak senang.
c)      Perasaan keindahan atau perasaan estetika
Perasaan ini timbul apabila orang mengalami sesuatu yang indah atau tidak indah. Orang akan mengalami perasaan senang apabila mempersepsi sesuatu yang indah, demikian sebaliknya orang akan merasa tidak senang apabila mempersepsi sesuatu yang tidak indah.
d)     Perasaan kemasyarakatan atau perasaan social
Perasaan ini timbul dalam hubungannya dengan interaksi social, yaitu hubungan antara individu satu dengan individu lainnya. Perasaan ini dapat bermacam-macam coraknya, misalnya perasaan senang atau simpati, perasaan tidak sengan atau antipasti.
e)      Perasaan harga diri
Perasaan ini merupakan perasaan yang menyertai harga diri seseorang. Perasaan ini dapat bersifat positif apabila individu dapat menghargai dirinya dengan baik, sebaliknya perasaan ini akan bersifat negative apabila individu tidak dapat menghargai dirinya sendiri secara tidak baik.
f)       Perasaan ketuhanan
Perasaan ini timbul menyertai kepercayaan kepada Tuhan yang mempunyai sebab-sebab sempurna.
D.    Emosi
Seseorang yang mengalami emosi pada umumnya tidak lagi memperhatikan keadaan sekitarnya. Oleh karena itu emosi merupakan keadaan yang timbul oleh situasi tertentu (khusus), dan emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu, dan perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi. Namun demikian kadang-kadang orang masih dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tersebut. Hal ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen (Carlson, 1987) yang dikenal dengan display rules. Menurut Ekman dan Friesen (Carlson,1987) adanya tida rules yaitu masking, modulation, dan simulation.

a.       Masking
Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau dapat menutupi emosi yang dialaminya. Emosi yang dialaminya tidak tercetus keluar melalui ekspresi kejasmaniannya.
b.      Modulation
Pada modulation orang tidak dapat memendam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya, tetapi hanya dapat menguranginya saja.
c.       Simulation
Pata simulation orang tidak mengalami emosi , tetapi orang tersebut seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian.
1.      Teori emosi
Ada beberapa teori yang menyoroti emosi. Tidak semua teori mengenai emosi  mempunyai titik pijak yang sama. Ada beberapa titik pijak yang berbeda yang digunakan untuk mengupas masalah emosi ini. Mengenai teori-teori tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
1)      Teori yang berpijak pada hubungan emosi dengan gejala kejasmanian.
2)      Teori yang hanya mencoba mengkalsifikasikan dan mendeskripsikan pengalaman emosional (emotional experiences)
3)      Melihat emosi dalam kaitannya dengan perilaku, dalam hal ini ialah bagai mana hubungannya dengan motivasi.
4)      Teori yang mengaitkan emosi dengan aspek gognitif.(Morgan, dkk., 1984)
1)      Hubungan emosi dengan gejala kejasmanian
Adanya hubungan antara emosi dengan gejala kejasmanian di antara para ahli tidaklah terdapat perbedaan pendapat. Yang menjadi silang pendapat adalah mana yang menjadi sebab dan akibatnya. Hal inilah yang menimbulkan teori-teori yang berkaitan dengan emosi yang bertitik pijak pada hubungan  emosi dengan gejala kejasmanian.
a)      Teori james-Lange
Menurut teori ini emosi merupakan akibat atau hasil dari persepsi dari keadaan jasmani(felt emotion is the perception of bodily states), orang sedih karena menangis, orang takut karena gemetar dan sebagainya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa gejala kejasmanian merupakan sebab emosi, dan emosi merupakan akibat dari gejala kejasmanian.
b)      Teori Cannon-Bard
Teori ini berpendapat bahwa emosi itu bergantung pada aktivitas dari otak bagian bawah.  Teori ini juga biasa disebut teori sentral dalam emosi(Woodword dan Marquis, 1957). Oleh Peterson (1991) teori ini disebut sebagai teoroi dengan pendekatan neurologis
c)      Teori Schater-Singer
Teori ini didasarkan pendapat bahwa emosi itu merupakan the interpretion of bodily arousal. Teori ini berpendapat bahwa emosi yang dialami seseorang merupakan hasil interprestasi dari aroused atau stirred up dari keadaan jasmani. Schater dan Singer perpendapat bahwa keadaan jasmani (bodily states) dari timbulnya emosi pada umumnya sama untuk sebagian terbesar dari emosi yang dialami, dan apabila ada perbed an fisiologis dalam pola otonomik pada umumnya orang tidak dapat mempersepsi hal ini. Karena perubahan jasmani merupakan hal yang ambigious.
2)      Teori hubungan antar emosi
Robert Plutchik (Morgan, dkk., 1984) mengajukan teori mengenai diskripsi emosi yang berkaitan dengan emosi prime ( primary emotion) dan hubungannya satu dengan hyang lain. Menurut Plutchik emosi itu berbeda dalam tiga dimensi yaitu, intensitas, kesamaan(similarity), dan polaritas atau pertentangan(polarity). Intensitas , similaritas, dan polaritas merupakan dimensi yang digunakan untuk mengadakan hubungan emosi yang satu dengan yang lain.
3)      Teori emosi berkaitan dengan motivasi
Teori mengenai emosi dalam kaitannya dengan motivasi dikemukakan oleh Leeper (lih. Morgan, dkk., 1984). Garis pemisah antara emosi dengan motivasi adalah sangat tipis. Missal takut(fear), ini adalah emosi, tetapi ini juga merupakan motivasi untuk mendorong perilaku.
Di samping itu Tomkis (Carlson, 1987) mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotion, berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang Nampak pada seseorang. Tiga yang bersifat dan yang enam bersifat negative



Tiga yang bersifat positif diantaranya;
·         Interest atau excitement
·         Enjoyment atau joy
·         Surprise atau startie
                                    Enam yang bersifat negative yaitu;
Ø Distress aatu anguis
Ø Fear atau terror
Ø Shame atau humilitation
Ø Contempt
Ø Disgust
Ø Anger atau rage
Berkaitan dengan adanya hubungan antar emosi dengan motivasi, maka ada teori yang disebut sebagai teori arousal(arousal theory). Teori ini adalah teori hubungan emosi dengan perilaku. Teori ini sering disebut juga teori optimal level theory .
4)      Teori kognitif mengenai emosi
Teori ini dikemukakan oleh Ricard Lazarus dan teman-teman sekerja, yang mengemukakan teori tentang emosi yang menekankan pada penafsiran atau pengertian mengenai informasi yang dating dari beberapa sumber. Teori ini menyatakan bahwa emosi yang dialami itu merupakan hasil penafsiran, atau evaluasi mengenai informasi yang datang dari situasi lingkungan dan dari dalam. Hasil penafsiran yang kompleks dari informasi tersebut adalah emosi yang dialami itu.
Disamping teori-teori diatas masih ada teori yang dikemukakan oleh Darwin mengenai emosi dalam hubungannya dengan ekspresi muka (facial expression). Darwin (Carlson, 1987) mengajukan suatu yeori mengenai ekspresi muka dalam kaitannya dengan emosi. Hal ini dapat diamati dengan jelas bagaimana seseorang yang marah akan terlihat pula bagaimana roma mukanya.,
Menurut Darwin orang-orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda menggunakan pola yang sama dalam pola gerak dari facial muscles untuk menyatakan keadaan emosional seseorang. Oleh karena itu menurut Darwin pola ekspresi rona muka adalah bersifat universial, dan oleh karenanya merupakan hal yang inherited atau bawaan.
           















BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan
Perasaan dan emosi pada umumnya disifatkan sebagai keadaan (state) yang ada pada individu atau organism pada sesuatu waktu. Missal seseorang merasa sedih, senang, takut, marah maupun gejala-gejala yang yang lain setelah melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu. Dengan kata lain perasaan dan emosi disifati sebagai suatu keaadaan kejiwaan pada organism atau individu sebagai akibat adanya peristiwa atau persepsi yang dialami oleh organism. Pada umumnya peristiwa atau keadaan tersebut menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam diri organism yang bersangkutan.

















DAFTAR PUSTAKA
Fauzi Ahmad ( 2010), Psikologi Umum, Pustaka Setia , Bandung:
Sobur Alex ( 2009), Psikologi Umum, Pustaka Setia , Bandung:,.
Suryabrata Sumad i (2009), Psikologi Pendidikan, Raja Grafindo Persada , Jakarta,
Yusuf Syamsu (2010) , Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosda Karya , Bandung





Aswaja An-Nahdiyah

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ A.     Latar ...